

LOCKDOWN & MOMENT EXCLUSIVE, Antara Hamba dengan Rabbnya
Bersama : KIAYI YAYAT RUHIYAT (Pimpinan Ponpes Tahfidz Qur’an AL -MUQORROBUN)
Memahami Qs Al-Baqarah 2 : 45
Tentang Pertolongan Allah
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”
Qs.Al-Baqarah 2 : 46
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
*(yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Robbnya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.*
Sahabat sholeh/ahku,
Modernism memiliki karakter serba materialistis dan reduksionis hasil turunan dari pola pikir genre Newtonian dan Kartesian yang menganggap bahwa, realita adalah sesuatu yang bisa diinderai oleh panca indera dan masuk akal.
Kita yang hidup di post modernisme ini sekalipun beragama dan bertuhan tetapi dalam keseharian pola pikir kita dari bangun tidur, beraktifitas hingga tidur lagi sudah dibentuk dengan cara pandang modernisme. Bahkan dalam urusan beribadah, modernisme mereduksi nilai ibadah hingga menghasilkan pandangan bahwa aktifitas ibadah adalah bagian perangkat untuk mengangkat nilai status seseorang di tengah masyarakat.
Status, penghormatan, respek, gelar, follower, likes, Adalah bagian nilai yang mereduksi nilai manusia di hadapan Allah yang semula ibadah itu cukup Allah saja yang tahu berganti menjadi cukup manusia yang tahu. Manusia menempatkan manusia sebagai subjek dan selain manusia; gunung, hewan, tumbuhan, Bahkan Sang Pencipta (Allah SWT) sendiri ditempatkan sebagai objek.
Loh kok Allah SWT sebagai objek?
Coba tengok cara kita berdoa. Sangat berbeda kualitasnya dengan doa doa para salafushalih. Doa kita bukan lagi munajat penuh pujian pada pemilik kehidupan. Doa doa kita berisi minta ini itu, buatan ini itu, kabulkan ini itu, hasilkan ini itu, jadikan ini itu, dst.
Sebelum lockdown Masjidil Haram, aktifitas umroh seperti selebrasi status di medsos. Ketika thawaf, sai, azan, berjalan, ponsel merekam dan selalu menyala. Bahkan pelataran Baitullah seperti stage untuk ruang studio. Jamaah berkumpul foto bersama tanpa sisi ruhiah merasakan keanehan dari semua aktifitas ini.
Sebelum lockdown, Masjid hanya simbol. Ibadah lebih sering di rumah. Pasang surut jamaah terasa saat waktu isya dan subuh. Susahnya mengumpulkan jamaah yang memenuhi satu saf. Anehnya, mereka berlomba umroh sementara ke masjid tidak pernah atau bahkan jarang. Saat pulang dari umroh, kebiasaan tidak berubah.
Semua aktifitas ibadah harus dengan ilmu. Darinya lahir rasa takut kepada yang gaib. Ibadah untuk menjadi hamba yang Muttaqien dan ciri muttaqien, hamba Allah yang bertaqwa itu beriman kepada yang ghaib dan mendirikan solat.
ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat,”
Surat al-Baqoroh (2) ayat 3
Dalam qawa’id tadabur qur’an, setiap fiil mudhari dimaknai istimror, keberlangsungan aktifitas secara terus menerus. Maka mengimani hal ghaib dan mendirikan solat dilakukan sepanjang hidup dalam segala kondisi.
Beriman kepada yang ghaib memiliki dua aspek :
Satu, menjadikan motivasi gerak beramal hanya berlandaskan kepada Allah yang Maha Ghaib. Tidak terlihat. Kedua, seorang hamba hendaknya menjadikan momen eksklusif antara dia dan Robbnya, Bahasa kekinian adalah lockdown.
Para salafushalih memiliki kebiasaan melockdown dirinya dari interaksi sosial.
Lockdown adalah menjadikannya serba eksklusif. Hanya ada Allah dan hamba-Nya.
Coba kita tengok Imam Hanafi Rahimahullah yang melockdown dirinya sehabis isya hingga subuh dengan menolak bertemu siapapun. Ia sudah mengkhususkan dirinya untuk Robbnya.
Imam Syafi’i melockdown dirinya dan membagi waktunya menjadi 3, istirahat, menulis buku, dan qiyamullail.
Umar bin Khattab dimulai saat tengah malam. Ustman bin Affan melockdown dirinya untuk mengkhatamkan qur’an per 3 hari. Dst.
Saat ini kita terkejut dengan musibah virus wuhan Covid19 yang menjadi salah satu alasan banyak masjid hingga Haramain lockdown. Terlepas dari asbab dan kontroversi, cobalah hidupkan lampu misykat serta kasyaf, hijab dalam kalbu kita. Selalu ada cara bagaimana Allah memilah dan mentarbiyah hamba hamba-Nya.
Sejatinya kita sebagai hamba justru diuji di saat kondisi ketika kita terbatas berinteraksi dengan siapapun. Kualitas siapa diri kita sebenarnya bukan saat kita solat beramai ramai atau berkumpul bersama tetapi justru saat kita sendirian dan hanya Allah saja yang menyaksikan apa yang kita perbuat.
Ya! Kita mencintai Baitullah, berjamaah di masjid, namun ada saat ketika masa ujian menyapa. Dan Allah tetap akan melihat siapa hamba hamba-Nya yang tetap melaksanakan ketaatan walaupun ia sendirian. Bukankah bumi yang dihamparkan ini adalah masjid, tempat bersujud kepada Allah? selain dari wc dan kuburan kita bebas melakukan ketaatan kepadaNya.
Maka,
Lalui kondisi saat ini dengan mengikuti fatwa ulama yang sudah menimbang hukumnya dan lakukan ketaatan baik di saat ramai atau sepi, banyak atau sendiri. Inilah saatnya momen eksklusif ketika kita tetap berdiri melakukan solat sekalipun hati begitu rindu kepada masjid. Lezatnya bacaan, damainya hati, Sakinah yang hadir, tidak sedikitpun berkurang.
Lockdown adalah interopeksi diri kita yang sudah terlanjur mematerialismekan ibadah dalam pandangan manusia. Indahnya skenario Allah yang terus mendidik kita agar kembali memperbaiki segala kesalahan dan khilaf.
Semoga kondisi ini cepat berlalu dan kita kembali hadir di rumahNya dengan lebih besar lagi cinta dan ketaatan serta keikhlasan hanya sebatas kepada Allah Azzawajalla.
Qs Aż-Żāriyāt 51 : 15
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,”
Qs Aż-Żāriyāt 51 : 16
آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ
*mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik,*
Qs. Aż-Żāriyāt 51 : 17
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;
Qs. Aż-Żāriyāt 51 : 18
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
*dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).
Yuk berdoa :
“Ya Alloh, karuniakanlah aku cinta kepadaMu, cinta kpd org2 yg mencintaiMu dan cinta kepada amal- amal yg mendekatkanku kepada cintaMu”.
(Yudika Adjie Mnd)
_AFM Ponpes Al -Muqorrobun_